Children See, Children Do..


Mereka Meniru Kacamata ku..

Guru, dalam bahasa jawanya adalah “Di Gugu lan Ditiru”, seorang guru merupakan contoh bagi anak – anak didiknya dikelas. Segala apa yang dikatakan olkeh guru, mostly siswa akan menurutinya. Tidak hanya apa yang kita bicarakan, tetapi juga apa yang kita lakukan, akan ditiru oleh anak – anak didik kita. Childreen see,childreen do…

Hal itu memang benar adanya, aku membuktikannya sendiri. Di hari awal aku mengajar di kelas, aku dikejutkan oleh anak – anakku yang menirukan apa yang aku pakai, yaitu kaca mata. Anak – anak membuat kaca mata dari sebuah batang lidi, batang lidi ini sudah ditekuk – tekuk sedemikian rupa hingga menjadi sebuah kacamata. Terkejut dan terharu dengan tingkah polah anak – anakku ini, aku benar – benar telah dibuatnya jatuh cinta dengan mereka. dari sebuah kaca mata menjadi cinta…

Amaze banget ktika melihat kekreatifan anak – anak ini, anak – anak ini bisa bermain dan memanfaatkan kekayaan alam disekitanrya untuk bermain. Luar biasa bukann.

Aku dibuatnya terkejut lagi oleh mereka, disuatu hari entah aku lupa, pokoknya di bulan november. Aku memotong rambutku sampai botak/plontos. Seperti biasa, aku sellau brangkat pagi untuk pergi ke sekolah. Selang waktu seminggu dari aku memplontos rambutku, aku dikejutkan oleh beberapa anak laki – laki yang memotong plontos rambut mereka. dan skali lagi, aku mengatkaan bahwa aku jatuh cinta pada mereka, dari sebuah potongan rambut menjadi cintaa..

Sudah dua kali mengalami hal serupa, maka akhirnya aku tanya kepada mereka, “anak-anak, kenapa kalian selalu menirukan apa yang bapak pakai/gunakan?”, merekapun dengan kompaknya menjawab “ Pak Guru, kami ingin seperti pak Guru.” Duhhh, hatiku terenyuh dengan apa yang mereka katakan padaku…

Today is yours my teacher


Masih ingat tanggal berapa hari guru itu??? Yap, tepat pada tanggal 25 November merupakan hari Guru Indonesia. Tentu hari ini menjadi hari yang bersejarah bagi guru – guru, memang banyak yang melupakan hari bersejarah ini. Namun, tak demikian dengan anak – anak SD Kristen Wunlah, tempat saya mengajar. Anak – anak mempersiapkan dengan baik untuk memperingati hari bersejarah bagi guru – guru mereka (dengan konseptor acaranya saya sendiri, hehe), aku dan anak – anak ingin membuat surprise untuk guru – guru SD yang lain.

Pada tanggal bersejarah bagi orang yang telah mendidika mereka ini, kami ingin ini menjadi moment yang precios dan selalu diingat oleh para guru. Anak – anak aku persiapkan untuk membawakan puisi, Dominggus, Ayu, dan Benzelina anak kelas 5 dipercaya untuk membawakan puisi ini. Sebelumnya, anak – anak sudah berlatih untuk menyanyikan lagu Hymne Guru, membuat surat untuk guru – guru yang ada di sekolah saat itu (gurunya hanya 3 saja + saya).

Surprisnya adalah, ketika guru – guru semua sudah hadir di sekolah, anak – anak langsung menyanyikan lagu Hyme Guru, ditengah – tengah lagu 3 orang anak membawakan puisi dan maju ke depan lapangan, secara bergantian, dan anak – anak yang lain membentangkan spanduk dari kertas yang bertuliskan (Selamat Hari Guru” dan “ Terima Kasih Guruku”. Dan perwakilan anak memberikan bingkisan yang berisi surat anak – anak bagi ketiga guru yang hadir + bunga. Bisa ditebak apa yang terjadi????

Para guru shock dan benar – benar amaze dengan kejutan ini,bahkan ibu Batlolona sempat menitikkan air mata karena saking terharunya. Ternyata mereka sendiri selama ini sudah lupa kalau tanggal 25 November  ini merupakan hari bersejarah bagi mereka, hari untuk penghargaan atas jasa – jasa mereka mendidik anak – anak hingga bisa tahu dunia. Acara ini baru pertama kali diadakan di sekolah ini, selama ini, para guru melewatkan hari bersejarah ini dengan begitu saja.

SELAMAT HARI GURU untuk Pahlawan tanpa tanda Jasa dimanapun kalian berada.

Home Alone..


Setiap kejadian selalu mengandung hikmah. Mungkin itu kata yang tepat bagiku. Genap 2 bulan sudah merasakan home alone di desa ini. Keluarga piaraku pergi ada urusan di kota hingga saat ini. Menjadi hikmah tersendiri dalam perjalanan hidup sebagai seorang pengajar muda. Kemandirian dan keikhlasan menjalani semua ini menjadi kunci utama. Kemandirian utamanya adalah semuanya harus dikerjakan sendiri, mulai dari masak makanan, membersihkan rumah, menyapu, mengambil air dari mata air, mencuci piring, semuanya harus bisa meskipun dalam segala keterbatasan sumber daya. Untuk makan, alhamdulillah saya bisa memasak, tapi masalahnya disini adalah susah bahan mentah yang bisa diolah menjadi makanan. Alhasil, saya setiap pulang sekolah harus pergi ke hutan untuk mencari daun – daunan yang bisa diolah, minta tetangga kesana kemari agar bisa makan. Lauk pauk utama yang sering dimakan adalah sayur daun singkong, sayur pepaya mentah, sayur jantung pisang. Untuk kebutuhan air, saya harus mencarinya dari mata air yang jaraknya lumayan cukup jauh dengan memikul timba, rasanya berat memang, hitung – hitung sambil olahraga, jadi harus menikmati dan selalu bersyukur karena masih ada air. Home alone ini juga mengajariku bagaimana mengolah ikan segar, cara membersihkannya, ohh..begini tho caranya membelah ikan agar siap untuk dimasak. Dia juga mengajariku bagaimana membuat ikan asin. Selama aku hidup, mana pernah aku mengerjakan semua ini. Semua ini menjadikanku lebih dewasa, dewasa dalam memandang sesuatu dengan positif, dewasa dalam berpikir, dan tentunya dewasa untuk menjadi seorang calon kepala keluarga. Hahahaha….. Pengalaman ini tentunya tidak akan pernah terlupakan seumur hidup, hidup sendiri selama 2 bulan lebih di sebuah pulau terpencil Indonesia. Pengalaman ini mengajariku untuk semakin ikhlas dan how to struggle in life. Terima kasih Tuhan, terima kasih Indonesia Mengajar telah memberi kesempatan bagiku untuk menjalani fasa kehidupan ini.

Being Positive Teacher


Kelasku, kelas IV yang terkenal dengan siswanya yang rame, bandel, dan pambodoh dimata guru – guru lainnya. Dan aku tahu sekarang kenapa aku ditaruh di kelas ini, to control them. Being a teacher is not easy, disini aku benar – benar diajarkan arti sebuah kesabaran, stress management, dan arti sebuah kehidupan keluarga. Kelasku boleh dipandang kelas yang rame, penuh dengan anak – anak yang bandel, tapi aku melihat mereka dari sisi yang berbeda . rame, bandel itu merupakan sifat dasar anak, kita dulu waktu kecil pasti sama dengan mereka. seorang guru yang positif dalam berpikir, bertindak, dan bertutur kata bisa menjadikan mereka dekat dengan guru. Aku mencoba untuk menjadi seorang guru yang positif, tapi terkadang sulit. Anak – anakku memang rame, ketika menjadi guru positif, aku mencoba mengontrol mereka denga metodeku sendiri, tidak dengan memukul, tidak juga dengan caci maki, tapi dengan hati. Aku mencoba menyentuh mereka dengan hati, dengan kata – kata halus, dan juga dengan analogi sebab akibat, istilah kerennya adalah “ cambuk kata – kata”. Aku mendekati mereka dengan tidak memaksa mereka mengitu ritme belajar ku, tapi aku mengikuti ritme belajar mereka, belajar sambil bermain tepatnya. Mereka tetap bisa rame, tetapi di dalam keramean itu ada contentnya, sebuah pelajaran. Diharapkan dengan begitu, mereka tetap senang jika berada di sekolah, tidak memandang sekolah merupakan pekerjaan yang mengerikan, monoton. Dalam belajar ini, aku hanya mengontrol profisonalisme bermain mereka, mengisi bermain mereka dengan sesuatu yang ada nilainya.

Saat stress aku hadapi di kelas, yang aku lakukan adalah pergi meninggalkan mereka atau mendiamkan sejenak mereka, anak – anakku tahu jika aku dalam kondisi seperti itu, berarti aku sedang marah, dan mereka akan diam sendiri, kemudian mereka berkata , “ Pak Guru sedang marah ya?”.. inilah uniknya anak – anakku, dibalik kebandelan mereka, terselip hati mutiara. Stress itu sedikit berkurang dan senyum kembali terkembang.

Seorang guru yang positif adalah guru yang ketika melihat muridnya masih belum bisa mengejar materi, dia harus menunggu muridnya itu. Lupakan sejenak  SK – KD, sesuaikan semua itu dengan kondisi anak – anak, lihat apakah anak – anak sudah memahami betul apa yang kita sampaikan. Rasa syok pernah aku alami dalam kelas, ketika ulangan harian IPA, muridku yang bernama Agustinus menjawab pertanyaan IPA dengan Matematika, kagetnya bukan main aku melihat anakku seperti ini. Sikap guru positif sekali lagi diperlukan dalam kondisi seperti ini, guru harus mengintrospeksi pembelajaran yang dilakukan selama ini.

Dan saya masih mencoba keras untuk menjadi guru yang positif.

Aku Cinta Indonesia


Sumpah pemuda kali ini menjadi hari yang berbeda dalam hidup anak – anakku di SDK Wunlah. Sumpah pemuda kali di sekolah, aku adakan kegiatan untuk memperingati hari sumpah pemuda. Dengan mengambil tema “Aku Cinta Indonesia”, acara memperingati sumpah pemuda kali ini begitu terasa di hati anak – anakku. Acaranya kali ini diisi  dengan lomba menggambar dan membuat karangan bertema “Aku Cinta Indonesia”. Anak – anak sangat senang sekali dengan acara ini, mereka bisa mengekspresikan diri mereka sebebas- bebasnya. Sangat terlihat dari wajah mereka, pancaran kebahagiaan mereka akan kegiatan ini.

Mereka menggambar dengan peralatan seadanya, hanya selembar kertas dan sebuah pena. Tapi dengan segala keterbatasannya, jangan anggap mereka tidak bisa mengerjakan semua itu. Lihat gambar dan hasil karangan mereka.. tidak kalah dengan anak – anak di kota. Ide mereka tentang kepahlawanan dan perjuangan, semangat cinta Indonesia mereka tercermin dari gambar dan karangan mereka.

Kegiatan berlangsung dengan penuh suka cita dan meriah, meskipun dalam kesederhanaan dan keterbatasan. Acara memperingati sumpah pemuda ini kemudian ditutup dengan mengucapkan ikrar “ kami anak Indonesia, cinta Indonesia”.

ANak - anakku Bergaya..

Jalan Panjang Kehidupan.


Hari ini berjalan seperti hari biasanya, setelah pulang libur lebaran aktivitas dimulai kembali, sedikit padat dari sebelumnya, karena ektrakurikuler dan bimbingan belajar lebih aktif dilaksanakan. Hari –hariku sedikit berbeda dengan hari – hari sebelumnya, karena saat ini aku hidup sendiri, tanpa siapa – siapa di rumah. Bapak piara dan mama piara sedang ke kota dalam jangka waktu relatif lama untuk pra jabatan. Aktivitas rumah seperti masak, menyapu, dilakukan sendiri, benar – benar mandiri.

Bangun pagi, membuat sarapan sebelum berangkat sekolah. Aktivitas pagi di sekolahku selalu diawali dengan apel pagi tepat pukul 07.00 WIT. Di apel pagi ini aku adakah senam pagi ringan untuk anak – anak, menghapal perkalian dan pembagian dari kelas 3 – 6, dan sedikit motivasi pagi. Anak –anak selalu aku ajarkan disiplin, masuk tepat jam 07.00 WIT, jika terlambat dihukum bersih – bersih halaman. Sebelum masuk ke kelas mereka mulai dibiasakan untuk berbaris sesuai dengan jenis kelamin, masuk secara bergantian.

Aktivitas belajar mengajar pun dimulai. Aku mengajar 3 kelas untuk beberapa minggu ini, yaitu kelas 4,5 dan 6 (khusus kelas 6, aku mengajar mata pelajaran IPA, Matematika, dan Bahasa Indonesia). Di SD ku masih kekurangan guru, dan ada beberapa guru yang sedang pergi ke kota untuk berbagai keperluan dan belum kembali. Cukup capek juga harus keliling kelas tiap pagi, tapi tiap melihat senyum syukur mereka dan semangat mereka, rasa capek itu tak terasa lagi. Setiap kali aku ngajar, selalu ada warga masyarakat yang melihat aku mengajar dengan berdiri di pinggir pagar, selain itu juga anak – anak kelas lain berdiri deret di pinggir jendela kelas. Benar – benar menjadi pusat perhatian di kelas.

Ketike bel pulang sekolah berbunyi, anak – anak kembali apel lagi untuk menerima pesan dan motivasi dari guru, mereka selalu meneriakkan kata” Kerja Keras” setiap bubar apel. Sampai di rumah, aku harus masak makanan untuk makan siang dan malam, setelah itu istirahat siang sebentar. Sore harinya setiap hari senin – rabu aku memberikan les Bahasa Inggris buat anak – anak kelas 4 -6 (di SD ku belum ada mata pelajaran bahasa inggris). Kamis ada klub sains, jum’at  hingga minggu tidak ada kegiatan sore, karena mereka ada ibadah sembahyang kristen.

Malam harinya, aku memberikan bimbingan belajar buat anak – anak. Dari hari senin – rabu khusus untuk kelas 4, dan hari kamis – sabtu untuk anak kelas 6. Untuk bimbingan belajar ini, aku adakan di rumah bapak pendeta (Pastori), karena lampu di rumah sudah lama tidak menyala lagi. Banyak anak yang datang, tidak hanya anak  kelas 4 saja yang datang, tetapi anak – anak kelas 3,5 juga sering datang. That’s so awesome experience activity in my life..

Hatiku Berlabuh Padamu, anakku..


Lebaran sudah berlalu, dan saatnya untuk bertemu kembali dengan anak-anakku di desa perantauan, Wunlah. 3 minggu meninggalkan mereka begitu sangat lama. Selalu terbayang dipikiranku, apa kabar mereka saat ini? Apakah mereka merindukanku seperti mereka merindukan mereka??
And now, it’s time to meet them. Fery pun berlabuh di wunlah, and guess what??? They know if i’ll come home today with fery.. and surprisingly they pick me up in the coast with their smile.. and i said, “ Hi kids, how are you today?”. Dan tiba-tiba anak muridku yang bernama Yesy berkata,” Pak guru kemana saja, kok lama sekali meninggalkan kami?”.. ohh, how i feel guilty to them. Mulutku ini tak bisa berkata apa-apa. Tak kusangka, mereka merindukanku juga.. tak hanya jiwaku yang berlabuh kembali di desa ini, tetapi hatiku juga berlabuh… berlabuh kepada anak-anakku.
Mereka secara bergotong royong membawakan barang – barangku. Di rumah tidak ada siapa-siapa, karena bapak piaraku sedang pra jabatan di Saumlaki. Saatnya untuk mandiri (Masak, Bersih-bersih rumah, nyuci, makan sendiri, all days). Inilah yang dinamakan “true leadership training in remote area”.
Senin sudah tiba, dan aku harus masuk sekolah untuk bertemu dengan anak-anak yang lain. Ternyata di sekolah hanya ada guru 2, yaitu Bapak Masela dan Ibu Batlolona. Tak terbayang bagiku bagaimana mereka mengajar anak-anak yang begitu banyak. Semangat pengabdian mereka tak diragukan. Karena guru hanya bertiga, kami sepakat untuk mengajar masing-masing dua kelas.
Aku harus mengejar ketinggalam materi yang sudah lumayan banyak, sedikit marathon tetapi tetap memperhatikan tingkat pemahaman anak-anak di kelas.

Desaku itu Wunlah


Gerbang Desa Wunlah

Wunlah adalah ibu kota kecamatan Wuarlabobar, satu dari sekian banyak kecamatan di Maluku Tenggara Barat. Kecamatan ini bisa ditempuh dengan menempuh perjalanan laut dengan fery satu malam dari Ibu kota Kabupaten MTB, Saumlaki, dan bisa lebih cepat jika menggunakan speedboat, hanya 4 jam. Ketika turun dari fery, kita masih harus naik ketinting (kapal motor kecil) untuk mencapai daratan Wunlah, sekitar 15 menit, karena disini belum ada pelabuhan kecamatan. Di Wunlah belum ada listrik dan sinyal, masyarakat disini mayoritas masih menggunakan genset dan pelita (nyala api dari minyak tanah yang ditaruh di kaleng) untuk penerangan pada malam hari.

Agama penduduk di Wunlah mayoritas adalah kristen protestan, sedikit katholik dan islam. Meskipun demikian, masyarakat disini sangat terbuka dengan adanya pendatang, toleran dengan kepercayaan lainnya, saling menghormati satu sama lainnya. Kecamatan Wuarlabobar ini merupakan satu-satunya kecamatan di Maluku Tenggara Barat yang memiliki keberagaman kepercayaan, yaitu ada kristen, katholik, dan islam. Di kecamatan ini ada 3 kampung muslim, yaitu Labobar, Karatat, dan Kilon. Untuk kegiatan keagamaan, disini gereja membentuk unit-unit ibadah untuk setiap sektor, Wunlah memiliki 6 sektor ibadah. Ibadah dilaksanakan setiap sore hari, mulai hari jum’at sampai minggu.

Pendatang yang paing banyak adalah orang Bhutton, Sulawesi Tenggara, mereka kebanyakan berprofesi sebagai pedagang disini, hampir semua toko (masyarakat disini menyebutny dengan “Opsi”) orang Bhutton yang punya. Pekerjaan masyarakat Wunlah mayoritas adalah sebagai petani dan nelayan. Di desa ini sudah ada beberapa kelompok tani dan nelayan, meskipun belum berjalan dengan maksimal.

Wunlah ini tidaklah luas, mungkin hanya seluas 10 x lapangan bola (i think so..), sehingga untuk ronda-ronda (keliling desa) cukup jalan kaki saja selama 15-30 menit. Kondisi tanah di Wunlah berbatu karang, namun disisi timur ada perbukitan yang tanahnya subur, disinilah masyarakat becocok tanam sayuran, kacang-kacangan, bawang, dll. Kondisi jalan disini lumayan bagus, meskipun masih sirtu (pasit batu) tapi rata.

Ketika kita menjadi pendang pertama kali di Wunlah ini, kita sebaiknya datang ke Tuan Tanah ( orang yang paling awal menempati pulau) untuk lapor diri dan diberi doa sesuai adat setempat, dan minum sopie tentunya (semacam arak), tapi jangan terlalu banyak, bisa mabok. Dari segi fasilitas kesehatan, disini cukup memadai, ada sebuah puskesmas kecil di pojok desa. Ada dua dokter PTT yang bertugas disini, beberapa bidan, jadi jangan khawatir jika kita sakit, insya’allah akan segera tertangani.

Mengajar itu menyenangkan..


aku mengajar di kelas 4 SD Kristen Wunlah, sebuah SD percontohan di Kecamatan Wuarlabobar. Hari pertama mengajar begitu menyenangkan, karena anak-anak memperhatikan aku dalam mengajar. 1  minggu setelah itu, mereka mulai menunjukkan siapa mereka sebenarnya,  kelasku sangat ramai sekali, anak-anak susah diatur, sedikit sekali yang memperhatikan aku mengajar, hanya bagian depan saja yang lumayan memperhatikan, apalagi kalau aku tinggal mengajar di kelas lainnya, mereka buat kelas seperti kapal pecah. Oh iya, aku selain mengajar di kelas 4, juga mengajar di kelas 3, kelas 6 untuk pelajran B. Indonesia, IPA, dan Matematika, dan menjadi guru Penjaskes. Jadi hampir setiap hari aku selalu berlari dari satu kelas ke kelas yang lainnya, jangan sampai ada mereka tidak diajar. Meskipun sebagai sekolah percontohan, SD ini masih kekurangan guru.

Hampir putus asa aku menghadapi mereka, namun aku tak kehabisan taktik untuk menghadapi mereka. Untuk pengkondisian kelas, setiap pergantian jam pelajaran, anak-anak aku ajak bernyanyi, baik itu lagu anak-anak maupun lagu gereja, hal ini bisa merelease kejenuhan belajar mereka, selain itu juga sedikit ice breaking. Anak-anak di SD ini tidak mempunyai buku bacaan, yang mereka punyai hanyalah 1 ballpoin dan buku tulis. Anak-anakku sangat malas mencatat, ketika aku menulis di depan kelas, banyak anak yang malah bermain, terutama laki-laki yang duduk di bagian belakang. Untuk menyiasati ini, aku menerapkan penilaian catatan, teringat kuliah dulu, jadi setiap habis mata pelajran, catatan mereka aku nilai, dan ini ternyata cukup berhasil juga sebagai cara untuk membuat mereka tidak ramai dan memperhatikan aku mengajar, mereka sadar jika sudah berhubungan dengan nilai. Untuk merangsang kerajinan anak-anak, aku juga menerapkan reward point, bagi siapa saja yang sering mengerjakan PR, sering angkat tangan, dan aktif di kelas, akan mendapat reward point, dan pemenangnya setiap sebulan sekali akan mendapat hadiah.

Ketika kalender tak menempel di dinding rumahku


Hari ini adalah hari dimana anak-anak SDK Wunlah masuk sekolah, setelah sebelumnya diliburkan karena semua guru melaksanakan KKG. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 07.30 WIT, seharusnya anak-anak sudah sampai di sekolah jam segini, tetapi kok tak ada satupun anak-anak yang datang ke sekolah???  Padahal minggu sebelumnya sudah diberi pengumuman oleh guru.??? Entah kenapa hati ini tergerak untuk keliling kampung memanggil anak-anak untuk masuk sekolah, dalam perjalanan, aku melihat masih banyak anak-anak yang bermain di pekarangan rumah mereka, di jalan, dipantai, spontan aku memanggil mereka untuk masuk sekolah. Aku baru teringat kalau mayoritas masyarakat di Wunlah masih sedikit yang punya kalender, jadi mungkin anak –anak tidak tahu kalau hari ini masuk sekolah setelah libur. Alhamdulillah usaha ku tidak sia-sia, setelah berjalan keliling kampung sekian lama, mereka akhrinya datang ke sekolah dengan pakaian olahraganya. Hari ini kebetulan hari olahraga, sedikit-demi sedikit anak-anak mulai berdatangan ke sekolah. Di SDK Wunlah tidak ada guru Penjaskes, jadi bapak kepala sekolah menunjuk saya untuk merangkapnya, disamping guru kelas.

Pagi itu aku melakukan pemanasan olahraga kepada anak-anak, dan aku mengaplikasikan semua materi olahraga ketika  training IM dulu, jadi tidak terlalu blank tentang penjaskes. Setelah pemanasan, aku dan anak-anak melakukan lari keliling lapangan bola di belakang SD. Setelah lari, anak –anak ada yang bermain sepak bola, bola voli, badminton. Uhmm…hari ini ini sungguh hari yang indah, begitu berwarna dan tak terlupakan dalam hidupku, dan aku akan selalu ingat jika kalender itu tidak menempel di rumah mereka….!!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 296 other followers